YUNANTO

Selamat Datang Di BLOG Saya...

Yunanto

Mahasiswa STMIK Rosma Karawang Jurusan Teknik Informatika Tahun Akademik 2012

Kamis, 20 Juni 2013

Mencari Kerja dengan 5 Aplikasi Facebook






Mencari kerja menggunakan Facebook? Bukan hal aneh lagi. Menurut survei  Social Job Seeker tahun 2012 lalu, Facebook merupakan salah satu situs yang menjadi acuan para perekrut karyawan. Sebanyak 86% perekrut karyawan mengaku mereka mencari kandidat potensial melalui profil Facebook-nya.

Ada 5 aplikasi Facebook yang bisa dimanfaatkan untuk mencari kerja atau mengembangkan karier:

1. BranchOut

BranchOut, adalah aplikasi  Facebook yang dirilis tahun 2010, dan sudah memiliki lebih dari 30 juta member. Gunakan akun Facebook Anda untuk terkoneksi ke aplikasi yang berisi para profesional ini. BranchOut mempunyai fitur “Professional Timeline” yang menonjolkan sisi kehidupan para profesional dan dunia karier. User juga bisa mengunggah resume, mengekspos skill, berkirim pesan, dan sebagainya. Unduh saja aplikasi ini di Facebook App Center.
2. BeKnown
Aplikasi BeKnown di Facebook menghubungkan user dengan database lowongan kerja di Monster.com. Artinya user akan terhubung dengan informasi seputar dunia kerja. BeKnown menambah profil profesional Anda dari informasi dasar di profile Facebook. Anda dapat menambahkan detil lain dan mengkustomisasi URL. Bisa juga meminta endorsement dari rekan kerja atau teman kuliah untuk mendukung profil profesional Anda.

3. Identified

Identified adalah aplikasi rekrutmen Facebook yang menggunakan data terhimpun dari Facebook dan menghasilkan  “Identified score”. Skor ini terasosiasi dengan karakteristik seperti kualitas tempat kerja. Makin banyak informasi yang Anda tambahkan di backround pendidikan, pengalaman kerja, dan jaringan profesional, makin tinggi juga “Identified score” yang didapat. Para perekrut tenaga kerja akan memperhatikan skor ini dan semakin mengincari mereka yang skornya tinggi.
4. Jobvite
Jobvite memungkinkan user menemukan, memilih, dan mencocokan pekerjaan ke sesama teman. Setelah itu saling terkoneksi dan mengajukan lamaran melalui formulir yang tersedia. User dapoat mencari jenis pekerjaan dengan keyword dan lokasi. Hasilnya adalah list lowongan kerja beserta posisi yang diinginkan, dan siapa di jaringan user yang terkoneksi dengan perusahaan tersebut.

5. Facebook’s Social Jobs Partnership

Facebook bekerjasama dengan Departemen Pekerjaan Amerika Serikat,
National Association of Colleges and Employers, DirectEmployers Association dan National Association of State Workforce Agencies untuk merilis aplikasi ini. User dapat mencari pekerjaan sesuai dengan keinginan mereka berdasar keyword, kategori, dan lokasi. Setelah menemukan, user dapat terhubung ke situs perekrut dan berinteraksi langsung dengan mereka.

Instagram Tambah Fitur Video








Sejauh ini, aplikasi Vine sangat sukses di Twitter. Aplikasi Vine merupakan aplikasi video pendek yang beberapa waktu terakhir sangat digemari pengguna smartphone.
Kesuksesan Vine tersebut ternyata membuat Instagram yang selama ini fokus pada foto berpikir untuk memperkaya fitur mereka dengan menambahkan kemampuan untuk merekam video pendek ala Vine.
Instagram diperkirakan akan menambah fitur perekam video pendek dalam layanan mereka. Belum disebutkan kapan fitur ini resmi dirilis dan apakah fitur tersebut termasuk ke dalam brand Instagram atau terpisah. Facebook selaku pemilik Instagram belum mau memberikan tanggal pasti, namun kemungkinan akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.
Jika dilihat, pengguna media sosial sepertinya kini tidak lagi fokus hanya pada foto. Mereka kini menyukai membagi video yang dibuat sendiri dan durasinya sangat pendek, misalnya 6 detik. Twitter menjawab keinginan pengguna tersebut  dengan merilis Vine, mulanya pada sistem operasi iOS Apple, lalu Android Google. Sampai saat ini pengguna Vine meningkat cukup cepat dengan dirilisnya aplikasi tersebut untuk Android.
Instagram sendiri dilaporkan memiliki pengguna sekitar 100 juta. Dengan tambahan kemampuan video pendek, diperkirakan aplikasi ini akan semakin disukai dan bisa terus menambah pengguna baru.

Rabu, 19 Juni 2013







Perilaku narsis di media sosial pada awalnya diidentifikasi mewabah di Facebook. Sebagai media sosial paling banyak penggunanya dan kemungkinan memamerkan segala sesuatu lebih mudah dibandingkan media sosial lain, perilaku narsis pengguna Facebook mendapatkan media yang tepat untuk pamer.
Kini, perilaku yang sama mulai merasuki Twitter. Sebuah penelitian dari Universitas Michigan menyebutkan fakta bahwa Facebook dan Twitter menimbulkan perilaku narsis, namun dalam cara yang berbeda.
Menurut penelitian tersebut, cara pengguna dalam menggunakan Facebook dan Twitter dapat menentukan seberapa narsis diri pengguna. Penelitian tersebut menemukan orang narsis paruh baya lebih suka melakukan update di Facebook sementara yang lebih muda suka menyombongkan diri mereka di Twitter.
Salah satu peneliti mengatakan pengguna paruh baya menggunakan Facebook untuk memperoleh persetujuan dari rekan-rekannya terhadap gambar  yang mereka posting. Sementara pengguna yang lebih muda memilih menggunakan Twitter karena mereka over value terhadap pendapat mereka sendiri. Melalui Twitter pengguna lebih muda memperluas lingkaran sosial dan mengkampanyekan pendapat mereka tentang berbagai topik dan isu-isu yang mereka ketahui.
Tidak aneh sebenarnya apa yang dihasilkan penelitian tersebut di atas. Sebagian besar pengguna Facebook dan Twitter memang lebih sering membicarakan diri mereka sendiri, pendapat mereka dan foto-foto diri mereka dalam berbagai kegiatan. Sering tanpa disadari bahwa perilaku memamerkan segala hal tentng diri pribadi tersebut adalah perilaku narsis.

Ilmuwan Ciptakan Software Pendeteksi Emosi

Hobi bercakap-cakap melalui ponsel? Tapi Anda tetap sulit menebak bagaimana perasaan lawan bicara Anda, bukan? Ilmuwan kini telah menciptakan software yang mampu mendeteksi emosi manusia melalui suaranya. “Pada dasarnya, kami berusaha memanfaatkan fitur suara, dan hal-hal seperti tekanan dan energi di dalamnya, untuk mendeteksi emosi dari orang yang mengatakan sesuatu,” jelas Wendi Heinzelman, pimpinan pencipta software tersebut yang juga ilmuwan komputer dan rekayasa elektrik di University of Rochester, New York. Software ini tidak membutuhkan informasi mengenai siapa yang mengatakan sesuatu itu, melainkan hanya menganalisa intonasi suara. Alat ini secara akurat mengukur emosi meliputi kesedihan, kebagahiaan, ketakutan, dan rasa jijik. Sejauh ini akurasinya mencapai 81%. Heinzelman masih harus melakukan sejumlah riset dasar lagi untuk menyempurnakan software ini. Temuannya bisa bermanfaat sebagai aplikasi yang dapat memahami bagaimana respon penerima telepon atas suatu pembicaraab. Temuan ini juga dapat membantu pengembangan robot yang memahami emosi manusia. Saat ini Heinzelman fokus membuat software bagi rekannya, Melissa Sturge-Apple, seorang psikolog yang merekam obrolan berjam-jam antara orang tua dengan anak remajanya. Ia dan Heinzelman tengah berusaha menganalisa emosi dari suara mereka. Heinzelman ingin menciptakan software yang berjalan dari komputer dan secara otomatik menghasilkan analisa emosi bagi studi psikologis. Jika ini berhasil maka ia akan mengembangkan software menjadi sebuah aplikasi yang berjalan di smartphone. Dengan begitu para pengguna ponsel akan bisa lebih memahami emosi lawan bicaranya.

Wow! Masih Banyak Perusahaan Pakai Software Bajakan

Masalah software bajakan merupakan masalah yang tidak kunjung selesai. Tingkat pembajakan di Indonesia juga masih sangat tinggi, yaitu 86%. Meskipun demikian, pemberatasan software bajakan masih terus dilakukan oleh BSA dan pihak kepolisian. Baru-baru ini BSA menertibkan 20 perusahaan di wilayah Subang, Bogor dan Cikarang. BSA memeriksa lebih dari 400 perangkat komputer dan menyita software tidak berlisensi senilai USD 177.018 atau sekitar Rp 1,7 miliar yang dimiliki Adobe, Autodesk, Microsoft, dan Symantec. Tampaknya dari temuan tersebut masih sangat banyak perusahaan yang menggunakan software bajakan. Dari pemeriksaan yang dilakukan perusahaan yang menggunakan software bajakan tersebut bergerak di bidang garmen, percetakan, pakan ternak, kimia, dan percetakan. Zain Adnan Kepala Perwakilan BSA di Indonesia menyebutkan, pembajakan software adalah sebuah masalah serius yang tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara, namun juga merugikan industri perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menciptakan lapangan kerja baru, atau diinvestasikan kembali dalam bentuk riset dan pengembangan. Satu hal penting yang harus dipaham banyak perusahaan menggunakan software bajakan karena mereka beranggapan software asli harganya masih mahal. Selain itu, tampaknya banyak perusahaan yang belum memahami pentingnya penggunaan software asli atau berlisensi. Untuk itulah, usaha pemberatasan pembajakan harus dilakukan tidak hanya dengan penggerebekan, tetapi juga melalui pendidikan. Artinya, perusahaan diberikan pengetahuan tentang software asli dan keuntungan penggunaan software asli atau berlisensi. Tidak kalah pentingnya adalah harga sofware asli atau berlisensi harus makin murah.

Melalui Facebook, Transaksi Online Banking Anda Bisa Jebol

Sebuah malware yang cukup berbahaya di Facebook ditemukan meningkat aktivitasnya. Meskipun malware tersebut sudah diidentifikasi semenjak tahun 2007 lalu, malware ini hampir tidak pernah benar-benar diusir dari Facebook. Trend Micro dalam rilisnya menyebutkan malware Zeus/Zbot terus berada di Facebook sampai saat ini. Zeus/Zbot adalah sejenis Trojan Horse yang telah menginfeksi ribuan komputer, terutama di Amerika Serikat. Malware ini bisa mencuri data-data bank pengguna. Cara kerja malware ini adalah terlebih dahulu masuk ke komputer penguna. Setelah Zeus menginfeksi komputer, ia akan tetap diam di sana sampai korban melakukan login ke situs bank. Saat korban memasuki situs bank inilah malware ini bekerja dengan cara mencuri password korban dan menguras rekening korban. Dalam beberapa kasus, bahkan dapat mengganti situs web bank dengan halaman sendiri untuk mendapatkan informasi lebih jauh, misalnya nomor Jaminan Sosial yang kemudian bisa mereka dijual di pasar gelap. Eric Feinberg dari Trend Micro mengatakan bahwa Zeus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007. Namun akhir-akhir ini aktifitas malware ini terus meningkat dan mengalami puncaknya pada bulan Mei 2013 yang lalu. Ia mengidentifikasi halaman fan page NFL di Facebook telah dimasuki malware ini. Feinberg telah mengamati aktifitas Zeus di halaman NFL fan page dan melihat peningkatan aktifitas dan link berbahaya dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengirim link tersebut ke Malloy Labs, sebuah laboratorium keamanan yang mengkonfirmasi bahwa link pada halaman tersebut melayani Zeus malware. Malware yang menginfeksi komputer diketahui dikendalikan oleh geng kriminal Rusia dikenal sebagai Russian Business Network yang dikaitkan dengan berbagai kegiatan kriminal online, mulai dari malware dan pencurian identitas serta pornografi anak.

Bijak Berinternet Demi Masa Depan Anak

Kemajuan dunia internet semakin hari semakin deras. Internet kini sudah berkembang jauh. Makin banyak orang yang terlibat di internet. Media sosial makin disukai pengguna. Tidak sedikit penduduk bumi yang menganggarkan anggaran rumah tangga mereka agar bisa berinternet. Dalam berinternet tersebut cukup banyak pengguna yang tidak berpikir dua kali dalam melakukan sesuatu. Ada yang santai-santai saja ketika mengirimkan foto mereka yang tidak senonoh. Ada yang melakukan tweet rasis, menghina dan opensif. Banyak juga yang memposting foto di Facebook tanpa pernah berpikir bagaimana foto itu kelak setelah mereka tidak ada lagi. Bagaimana update status, tweet dan lain sebagainya sedetik setelah dikirimkan, jarang sekali dipikirkan pengguna internet. Sebuah ulasan menarik di Huffingtonpost memberikan gambaran agar kita bijak dalam berinternet agar anak-anak kita kelak tidak mengalami kemalangan dalam karier mereka. Artikel tersebut menekankan agar kita berpikir dua sampai tiga kalau atau lebih sebelum memposting sesuatu di internet terutam di media sosial agar masa depan anak-anak lebih baik. Satu yang harus kita ingat adalah konten yang kita bagi di internet akan hidup selamanya, meskipun konten tersebut telah kita hapus sebelumnya. Tweet yang pernah dihapus bisa dikembalikan lagi dengan hanya satu langkah mudah. Jadi bisa saja karena konten yang kita bagi hari ini berpengaruh besar terhadap masa depan anak-anak kita. Survei juga menunjukkan sekitar 10% dari responden mengaku ditolak bekerja karena gambar atau komentar mereka di media sosial. Ini sebuah pertanda bahwa kehadiran di media sosial berpengaruh terhadap pekerjaan. Di masa depan bisa saja perusahaan mencari latar belakang seseorang di media sosial dengan melihat sejarah orang tuanya. Ini sesuatu yang mungkin terjadi karena tentu perusahaan khawatir merekrut orang yang salah. Nah, bijaklah berinternet. Think Before Posting!